Dalam Ceramah ini Abah Guru menjelaskan
Bagaimana seseorang Penuntut Ilmu saat ini Banyak yang tidak Ikhlas
sehingga ketika Lulus menuntut Ilmu menjadi Guru, Mubaligh , Ulama yang tidak Ikhlas
Berkata Abah Guru Sekumpul dalam Ceramahnya ;
NIAT ... PERHATIKAN NIAT ...
Menuntut Ilmu itu Mulia
Harus Niatnya Ikhlas
Kalau tidak Ikhlas dalam menuntut Ilmu
Coba buka Kitab Kifayatul Atqiya
" Tanda orang menuntut Ilmu yang berhasil tetapi Niatnya Tidak Ikhlas"
bahwa Allah menjadikan dia ( Penuntut Ilmu ) Amil dari Sultan ( dibawah kendali/diatur Pejabat)
itulah tanda penuntut Ilmu yang tidak Ikhlas
Kalau Penuntut Ilmu yang Ikhlas tidak bisa dibawah Sultan / diatur oleh Pejabat
Bahkan Sultan/ Pejabat dibawah Penuntut Ilmu yang ikhlas tersebut
Buka Kitab Kifayatul Atqiya jelas semua diterangkan disana
dan ini yang membuat Abah Guru Sekumpul MENANGIS ...MELIHAT KEADAAN SEKARANG INI
Hampir semua Lulusan Penuntu Ilmu yang menjadi Guru/Mubaligh/Ulama semua dibawah Sultan/Pejabat karena tidak Ikhlas.
Wallahualam
Sekelumit Kitab Kifayatul Atqiya
Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya adalah karya tasawuf populer
karangan Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, ulama Makkah abad ke-13 H/19 M.
Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) dari nazham Hidayatul Adzkiya ila Thariqil Auliya karya Syekh Zainuddin al-Malibari, yang fokus pada pembersihan jiwa, akhlak, dan penyeimbangan kehidupan dunia-akhirat.
Poin-Poin Utama Kitab Kifayatul Atqiya:
- Isi dan Pembahasan: Kitab ini membahas dasar-dasar ilmu tasawuf praktis, meliputi topik ikhlas, tawakal, uzlah (mengasingkan diri), serta adab spiritual lainnya.
- Karakteristik Syarah: Sayyid Bakri Syatha mengulas setiap bait Hidayatul Adzkiya secara mendalam, diawali dengan definisi, makna, dan i'rab (tata bahasa).
- Struktur: Seringkali diawali dengan pembahasan mengenai Tarekat sebelum masuk ke topik-topik tasawuf, menegaskan bahwa pendekatan spiritual memerlukan metode yang terstruktur.
- Konteks Pesantren: Banyak dipelajari di pondok pesantren Indonesia (terutama di kalangan Syafi'iyah) sebagai rujukan utama untuk meniti jalan menuju rida Allah.
- Kitab ini menjadi panduan penting untuk memahami bahwa tasawuf sejati menuntut keseimbangan antara syariat dan hakikat

Posting Komentar untuk "SAAT ABAH GURU SEKUMPUL MENANGIS MELIHAT KEADAAN ULAMA SAAT INI"